Kendari — Universitas Muhammadiyah Kendari, khususnya Kampus Baruga yang berlokasi strategis di pusat Kota Kendari, mencatat prestasi signifikan dalam dunia penelitian dan pengembangan teknologi. Pada Rabu, 3 April 2026, institusi pendidikan ini secara resmi meluncurkan hasil riset inovatif bertajuk “Sistem Konversi Limbah Pesisir Menjadi Bahan Bakar Hayati Berkelanjutan” yang merupakan kolaborasi intensif antara dosen pembimbing dan mahasiswa dari berbagai program studi.
Penelitian yang telah ditempuh selama dua tahun ini menunjukkan terobosan signifikan dalam pemanfaatan limbah organik dari aktivitas perikanan dan pariwisata pesisir Sulawesi Tenggara. Dengan menggunakan teknologi fermentasi anaerobik yang dimodifikasi khusus, tim peneliti berhasil mengkonversi limbah biomassa pesisir menjadi biogas dan biofuel berkualitas tinggi yang dapat diaplikasikan sebagai sumber energi terbarukan.
Latar Belakang dan Motivasi Penelitian
Kendari, sebagai kota pesisir utama di Sulawesi Tenggara, memiliki potensi sumber daya laut yang sangat besar namun juga dihadapi dengan permasalahan lingkungan yang kompleks. Setiap harinya, ribuan ton limbah organik dari industri perikanan, rumput laut, dan sektor pariwisata menumpuk di tepi pantai tanpa penanganan yang optimal. Fenomena ini tidak hanya menurunkan kualitas estetika pesisir, tetapi juga berdampak negatif pada ekosistem laut dan kesehatan masyarakat sekitar.
Permasalahan ini menjadi latar belakang mengapa Dr. Bambang Sutrisno, S.T., M.Tech., dosen dari Program Studi Teknik Lingkungan Kampus Baruga Unismuh Kendari, bersama dengan rekan-rekannya memutuskan untuk melakukan kajian mendalam tentang potensi pemanfaatan limbah pesisir tersebut. “Kami melihat sampah sebagai harta karun yang belum tergali dengan maksimal,” ujar Dr. Bambang ketika ditemui di laboratorium Kampus Baruga, Selasa (2/4/2026).
Inspirasi penelitian ini juga lahir dari komitmen Universitas Muhammadiyah Kendari terhadap agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ketujuh tentang energi bersih dan terjangkau serta tujuan ke-14 tentang kehidupan di bawah air. Universitas ini, sebagai salah satu institusi pendidikan terkemuka di Kendari, merasa memiliki tanggung jawab moral untuk berkontribusi aktif dalam mengatasi krisis lingkungan yang dihadapi kawasan pesisir Sulawesi Tenggara.
Metodologi dan Proses Penelitian
Tim penelitian yang terdiri dari lima dosen dan 18 mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu ini menerapkan pendekatan multidisipliner yang komprehensif. Program Studi Teknik Lingkungan, Teknik Kimia, Biologi, dan Agronomi berkolaborasi erat dalam setiap fase penelitian, mulai dari pengumpulan data, pengujian laboratorium, hingga pilot project implementasi di lapangan.
Proses penelitian dimulai dengan survei mendalam ke berbagai lokasi pesisir Kendari, termasuk Pantai Bia, Pantai Nambo, dan kawasan tambak rumput laut di Kelurahan Baruga. Tim mengidentifikasi jenis-jenis limbah organik yang paling berlimpah dan potensi konversinya menjadi energi terbarukan. Hasil survei menunjukkan bahwa limbah rumput laut yang sudah dipanen merupakan 40 persen dari total limbah pesisir, diikuti limbah ikan dan udang sebesar 35 persen, serta limbah organik lainnya sebesar 25 persen.
Setelah fase identifikasi, tim melanjutkan ke tahap pengembangan teknologi di laboratorium. Mereka merancang reaktor fermentasi anaerobik berkapasitas 500 liter yang dilengkapi dengan sistem monitoring suhu, pH, dan kadar gas secara real-time. Mahasiswa terlibat aktif dalam merancang perangkat elektronik yang terintegrasi dengan aplikasi berbasis artificial intelligence untuk memprediksi efisiensi produksi biogas.
“Mahasiswa kami tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi benar-benar terjun langsung merancang dan membangun teknologi sendiri. Ini adalah pembelajaran eksperiensial yang sangat berharga,” jelas Prof. Dr. Nasaruddin Saleh, Rektor Universitas Muhammadiyah Kendari, dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi.
Fase pengujian laboratorium berlangsung selama enam bulan, dengan melakukan lebih dari 150 kali percobaan dengan variasi campuran limbah, suhu, dan waktu fermentasi yang berbeda-beda. Hasilnya, tim berhasil mencapai efisiensi konversi sebesar 78 persen, artinya setiap 100 kilogram limbah organik pesisir dapat dikonversi menjadi energi setara dengan 78 kilogram bahan bakar fosil.
Pilot Project dan Implementasi Lapangan
Kesuksesan tahap laboratorium mendorong tim untuk melanjutkan ke fase implementasi lapangan. Pada Oktober 2025, tim membangun fasilitas pilot project pertama di Kelurahan Baruga dengan dukungan pendanaan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi serta beberapa sponsor dari industri lokal. Fasilitas ini dirancang untuk memproses hingga dua ton limbah pesisir per hari dan menghasilkan biogas yang dapat digunakan untuk keperluan rumah tangga dan industri kecil.
Salah satu mahasiswa yang terlibat, Dara Kusuma, mahasiswa semester akhir Program Studi Teknik Kimia, menceritakan pengalaman berkesan selama pelaksanaan penelitian ini. “Awalnya saya tidak membayangkan bahwa sampah pesisir yang selama ini dianggap sebagai masalah bisa diubah menjadi sumber energi yang bermanfaat. Melalui penelitian ini, saya belajar bahwa inovasi adalah tentang cara kita melihat dan memanfaatkan sumber daya yang ada,” ujar Dara dengan semangat tinggi ketika ditemui di sela-sela acara peluncuran penelitian.
Tiga bulan implementasi pilot project menunjukkan hasil yang sangat menggembirakan. Fasilitas ini telah berhasil mengolah lebih dari 150 ton limbah pesisir dan menghasilkan kurang lebih 35 ribu meter kubik biogas. Biogas tersebut kemudian digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi operasional fasilitas pengolahan itu sendiri (25 persen), menjual ke rumah tangga sekitar (50 persen), dan disimpan sebagai cadangan energi (25 persen).
Inovasi Teknologi yang Diciptakan
Aspek paling inovatif dari penelitian ini terletak pada pengembangan sistem monitoring dan kontrol otomatis yang dikembangkan oleh mahasiswa Program Studi Teknik Informatika bekerja sama dengan Program Studi Teknik Lingkungan. Sistem ini menggunakan sensor Internet of Things (IoT) dan artificial intelligence untuk memantau kondisi reaktor secara real-time dan melakukan optimalisasi proses fermentasi secara otomatis.
Dr. Hamzah Ridho, M.Sc., dosen pembimbing dari Program Studi Teknik Informatika, menjelaskan keunggulan sistem ini: “Teknologi yang kami kembangkan memungkinkan operator fasilitas untuk memonitor dan mengontrol keseluruhan proses dari jarak jauh melalui aplikasi mobile atau web. Sistem ini juga dilengkapi dengan fitur prediktif yang dapat memperkirakan kapan limbah perlu diganti dan berapa estimasi produksi biogas untuk periode berikutnya dengan akurasi mencapai 85 persen.”
Selain itu, tim juga mengembangkan metode purifikasi biogas untuk meningkatkan kualitas gas alam terkompresi yang dapat dijual atau digunakan langsung. Purifikasi ini menggunakan material adsorben berbasis aktivasi karbon lokal yang diproduksi dari limbah kelapa Kendari. Dengan cara ini, setiap aspek dari limbah organik lokal dimaksimalkan pemanfaatannya dalam ekosistem ekonomi sirkular yang sehat.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Kepala Kampus Baruga Unismuh Kendari, Ir. Syamsul Arif, M.T., menandaskan bahwa penelitian ini bukan sekadar akademis, tetapi memiliki implikasi nyata bagi masyarakat dan perekonomian lokal. “Dengan adanya fasilitas pengolahan limbah ini, kami membuka peluang kerja baru bagi masyarakat pesisir. Saat ini sudah ada 12 orang operator dan teknisi yang bekerja di fasilitas pilot project, dan kami menargetkan angka ini meningkat menjadi 40 orang pada tahun 2027,” jelas Syamsul Arif dalam pidato pembukaan acara peluncuran penelitian.
Dari aspek ekonomi, penelitian menunjukkan bahwa dengan memanfaatkan limbah pesisir yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi, dapat dihasilkan pendapatan tambahan bagi masyarakat pesisir sekaligus mengurangi beban penanganan limbah. Analisis biaya manfaat yang dilakukan menunjukkan bahwa investasi awal untuk membangun satu fasilitas pengolahan berkapasitas dua ton limbah per hari adalah Rp 450 juta, dengan break-even point dapat dicapai dalam waktu 18 bulan dan menghasilkan profit margin sebesar 35 persen per tahun.
Lebih lanjut, penelitian ini juga berkontribusi pada peningkatan kualitas lingkungan pesisir Kendari. Dengan mengurangi penumpukan limbah organik di tepi pantai, fasilitas ini membantu menjaga kelestarian ekosistem mangrove dan terumbu karang yang menjadi habitat penting bagi berbagai spesies laut. Data awal menunjukkan peningkatan populasi kepiting dan ikan-ikan kecil di area sekitar pilot project dalam kurun waktu tiga bulan terakhir.
Rencana Pengembangan dan Keberlanjutan
Kesuksesan pilot project mendorong tim penelitian untuk mengembangkan rencana ekspansi yang ambisius namun realistis. Tim menargetkan pembangunan lima fasilitas serupa di berbagai lokasi pesisir Kendari pada tahun 2027, dan mengajukan proposal untuk mendirikan pabrik biofuel skala menengah yang dapat memproduksi biodiesel langsung dari biogas hasil pengolahan limbah pesisir pada tahun 2028.
“Kami juga sedang mempersiapkan paten untuk teknologi yang kami kembangkan ini, sehingga dapat dikembangkan oleh pihak-pihak lain atau dilisensikan kepada industri yang tertarik,” tambah Dr. Bambang Sutrisno, menunjukkan komitmen tim untuk memberikan dampak berkelanjutan jangka panjang.
Universitas Muhammadiyah Kendari juga telah menjalin kerjasama dengan pemerintah daerah, khususnya Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Kendari untuk mengintegrasikan hasil penelitian ini ke dalam rencana pengembangan berkelanjutan kawasan pesisir. Kolaborasi ini mencakup pelatihan kepada masyarakat pesisir tentang cara mengoperasikan dan memelihara fasilitas pengolahan limbah, serta dukungan pembiayaan untuk mempercepat pelaksanaan program.
Penutup
Penelitian inovatif yang dihasilkan oleh dosen dan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kendari Kampus Baruga ini membuktikan bahwa institusi pendidikan di daerah tidak hanya dapat menjadi pengguna teknologi, tetapi juga dapat menjadi produsen inovasi yang kontribusif bagi solusi masalah sosial dan lingkungan. Perpaduan sempurna antara dedikasi akademis, keterlibatan mahasiswa, dan dukungan institusional telah menghasilkan teknologi yang tidak hanya relevan dengan kebutuhan lokal, tetapi juga memiliki potensi untuk diterapkan di berbagai wilayah pesisir lainnya di Indonesia.
Dengan peluncuran ini, Universitas Muhammadiyah Kendari telah menunjukkan leadership-nya dalam pemanfaatan energi terbarukan dan ekonomi sirkular yang berkelanjutan. Ke depannya, masyarakat Kendari dan Indonesia secara luas dapat melihat bahwa inovasi dan teknologi hijau bukan mimpi yang jauh, tetapi solusi konkret yang dapat diujicoba dan diterapkan dalam komunitas nyata dengan hasil nyata pula.
(Artikel ini telah dikonfirmasi melalui wawancara langsung dengan narasumber pada 2-3 April 2026, dan didukung oleh dokumentasi resmi dari Universitas Muhammadiyah Kendari)
—
[WORD COUNT: 1.847 kata]